Di bawah langit yang dipenuhi cahaya neon, Kota Hesperis berdiri megah, membalut segala sesuatu dalam kilauan futuristik yang tak terhitung jumlahnya. Jalanan dipadati kendaraan terbang berkecepatan tinggi yang berputar mengelilingi gedung-gedung pencakar langit, sebagian besar terbuat dari bahan transparan yang memantulkan cahaya ribuan hologram yang menggantung di udara. Pada malam hari, kota ini berubah menjadi lautan warna, dengan lapisan-lapisan cahaya berpendar dari setiap sudut, menciptakan suasana yang begitu hidup dan memikat. Suara lembut mesin yang berdenyut dan gemericik arus energi dari bawah tanah menjadi ritme kehidupan kota, sementara di atas, satelit-satelit pengintai melayang tenang, memonitor setiap inci pergerakan.

Di sebuah kamar hotel mewah, seorang pria dan wanita baru saja selesai melakukan hubungan intim hingga tertidur kelelahan.

Tidak lama kemudian, sebuah cahaya muncul dari sekedar titik kecil menjadi besar, dan sebuah portal teleportasi terbuka, memancarkan sinar berkilau. Dari dalamnya, muncul sosok seorang wanita cantik dan seorang pria muda menggunakan baju kaos lengan pendek dengan paduan celana jeans.

Begitu sinar portal itu menghilang, mereka berdua saling berpandangan dengan wajah bingung. Wajah mereka memerah, menyadari bahwa mereka telah muncul di tempat yang sama sekali tidak mereka duga.

Ruangan kamar hotel itu tampak mewah dan futuristik, dipenuhi dengan teknologi canggih di setiap sudutnya. Dinding-dinding berlapis kaca transparan memperlihatkan pemandangan kota yang berkilauan di kejauhan, sementara lampu-lampu kecil tersembunyi di langit-langit memancarkan cahaya lembut yang berubah warna mengikuti suasana. Sebuah meja kaca melengkung di tengah ruangan menampilkan proyeksi holografis yang melayang perlahan, memperlihatkan daftar layanan hotel. Lantai marmer hitam berkilauan membentang luas, namun keindahan tersebut tertutupi pakaian berserakan diberbagai tempat, dari celana panjang, rok, hingga pakaian dalam.

Di atas ranjang besar berlapis kain satin perak, seorang pria dan seorang wanita muda tampak tertidur lelap, kelelahan. Napas mereka teratur, dan ekspresi di wajah mereka menunjukkan betapa lelahnya mereka setelah melewati malam yang panjang. Pakaian mereka yang berantakan tergeletak di sekitar tempat tidur, menunjukkan permainan mereka yang liar sebelum akhirnya jatuh dalam kelelahan.

Lynx dengan cepat menoleh pada Leena, matanya menyiratkan peringatan. Tanpa sepatah kata pun, mereka bergerak serempak. Tubuh mereka melesat menuju jendela besar yang otomatis terbuka dengan dengungan pelan, membiarkan angin malam kota Hesperis menyapa wajah mereka.

Dalam sekejap, mereka berdua melayang keluar, tubuh mereka melesat ke udara dengan gerakan ringan dan anggun. Mereka terbang menuju atap hotel bertingkat tinggi, menghindari tatapan satelit dan sensor keamanan yang mengawasi setiap sudut kota.

Angin malam berembus kencang di atap hotel bertingkat itu, membawa aroma logam dan ozon dari kota yang tak pernah tidur. Lampu-lampu neon yang berkilauan jauh di bawah mereka membentuk lautan cahaya yang tampak tak berujung, sementara di kejauhan, pesawat-pesawat kecil melesat melintasi langit dengan jejak tipis bercahaya.

"Lynx, apa yang kamu bawa?" tanya Leena.

"Aku mengambil beberapa pakaian mereka di lemari. Kurasa pakaian mereka lebih bagus daripada pakaian yang kita beli di planet Yura." jawab Lynx sambil menyerahkan sebuah gaun indah untuk Leena gunakan.

"Dasar. Kamu memberiku pakaian curian." Sindir Leena sambil menerima pakaian tersebut. Tidak bisa tidak, dia mengagumi model pakaian yang diberikan Lynx kepadanya.

Sebagai wanita, dia menyukai keindahan. Selama di planet Surya ataupun di benua Tianzhou, model pakaiak yang digunakannya kurang lebih sama, salah satunya karena dia tidak terlalu menyukai pakaian tersebut yang terkesan kuno. Kini melihat gaun lembut, hatinya tergoda. Dia segera menyimpannya di cincin penyimpanan dan berniat memakainya setelah menemukan tempat yang cocok.

"Aku meletakkan beberapa keping emas. Aku yakin itu lebih dari cukup untuk sekedar pakaian. Selain itu aku yakin kamu akan terlihat sangat cantik dengan pakaian tersebut." Jawab Lynx sambil senyum menggoda. Dengan kemampuannya, bergerak cepat untuk melakukan hal tersebut bukan hal sulit.

Wajah Leena memerah karena malu.  Pria dan wanita yang dilihatnya di kamar hotel sudah membuatnya malu, membuatnya teringat kondisi dia dan Lynx jika selesai berhubungan,, dia sering langsung tertidur karena tidak sanggup Lagi bergerak setelah melayani nafsu Lynx yang seolah tidak ada akhirnya.

Lynx melanjutkan, "Sebaiknya kita pindah ke bangunan sebelah sana yang lebih tinggi. Aku melihat banyak kamera sekitar tempat ini."

Lynx dan Leena segera melompat dan mendarat ringan di permukaan atap yang datar, yang terbuat dari material hitam berteknologi tinggi, dirancang untuk menyerap energi matahari di siang hari. Di sekeliling mereka, beberapa menara sensor berdiri, berkedip pelan dengan cahaya biru.

Leena mengusap rambutnya yang tergerai tertiup angin, lalu memandang ke sekeliling dengan waspada. "Apa kamu yakin, dimensi ini tempat dimana Lala berada?"

Lynx menganggukkan kepala, "Aku sangat yakin. Bukankah kamu lihat sendiri, kita keluar dari portal dimensi, di dekat satelit yang menangkap sinyal mesin dimensi Lala."

Leena teringat bagaimana mereka muncul di dunia ini setelah Lynx berusaha mengikuti sinyal yang di pancarkan mesin dimensi, dan muncul di luar angkasa. Berkat ranahnya di tingkat grandmaster, Leena tidak perlu lagi harus menahan napas diruang hampa udara, karena dari qi spiritual ditubuhnya, dapat membantu menggantikan kebutuhan tubuhnya seperti oksigen.

Setelah mengetahui mereka berada di luar angkasa, Lynx segera membuat portal teleportasi secara sembarangan karena dia tidak mengetahui titik kemunculan, sehingga tanpa di duga, mereka muncul di kamar hotel.

"Aku tidak bisa bayangkan ekspresi mereka jika saat bercinta, kami muncul." batin Leena geli. Dia berusaha menahan tawa karena kondisi mereka yang sedang serius.

"Kita harus segera mencari tahu di mana Lala berada," kata Leena, suaranya tegas meski pelan, seolah berbicara langsung ke telinga Lynx di tengah hembusan angin.

Lynx mengangguk ringan, matanya menyipit menembus gelapnya malam. "Aku akan mulai mencari keberadaannya dari sini. Seharusnya mudah menemukannya yang memiliki qi spiritual. Aku yakin di dunia ini tidak ada Kultivator lain." ucapnya, suaranya tenang namun penuh ketegasan. Dengan gerakan halus, ia memusatkan kemampuan persepsinya, menembus lapisan-lapisan bangunan dan struktur kompleks kota, mencari jejak yang familiar hingga ribuan kilo meter.

Leena berdiri di sisinya, satu tangan menggenggam erat sarung pedangnya. Tatapannya tajam, penuh kesiapan untuk menghadapi apapun yang akan mereka temui di dunia asing ini.

Sejenak, di tengah perhatian Leena menatap Lynx yang sedang mencari Lala, pandangan Leena terhenti. Ia menatap lautan cahaya yang membentang di bawah kaki mereka, matanya membelalak kecil, terpesona oleh keindahan yang tidak pernah ia saksikan di dunia asalnya.

"Indah sekali..." gumam Leena pelan, suaranya nyaris terbawa angin. Ia melangkah lebih dekat ke pinggir atap, membiarkan angin malam mengibaskan rambut panjangnya.

Lynx, yang tengah memusatkan konsentrasinya, sempat melirik ke arahnya dan tersenyum tipis. Ia ikut mengalihkan pandangannya ke kota yang bersinar seperti permadani bintang terbalik. "Ya. Dunia ini sangat luar biasa, aku sudah lama tidak melihat lampu-lampu sebanyak ini. Apalagi di tempat kita, teknologinya terlihat jauh tertingggal," ujarnya dengan nada datar, namun matanya memancarkan ketertarikan yang dalam.

Leena menghela napas panjang, matanya berbinar. "Semua warna ini, cahaya yang menari... Seolah-olah langit dan bumi bertukar tempat," katanya dengan nada takjub. "Dunia ini... berbeda, tapi menakjubkan dengan caranya sendiri."

Lynx mengangguk perlahan, membiarkan keheningan sejenak menyelimuti mereka. Hanya suara angin dan gemuruh jauh kendaraan terbang yang menemani.

"Tapi keindahan sering menyembunyikan bahaya," kata Lynx akhirnya, suaranya berubah lebih serius. Ia menatap ke bawah, mengamati kerumitan jalur-jalur jalan dan gedung, seolah mencari sesuatu di balik kecemerlangan itu. "Kita tidak boleh lengah."

Leena menoleh padanya, senyumnya melembut. "Aku tahu," bisiknya. "Tapi... untuk sesaat, biarkan aku menikmati pemandangan ini."

Lynx menatapnya beberapa detik, kemudian melanjutkan pencariannya untuk menemukan Lala. Lynx yakin Lala berada di tempat ini.

"Aneh, kenapa aku tidak bisa merasakan kehadirannya. Apakah terjadi sesuatu dengannya?" Batin Lynx, kecemasan terbayang di wajahnya.

Setelah berusaha mencari tanpa hasil, Lynx teringat dengan kertas formasi yang pernah diberikannya ke Lala. Lynx segera mencari keberadaannya untuk memastikan dimensi ini memang benar lokasi Lala berada.